TATA LAKSANA PEMBIBITAN KAMBING PERAH
1. Bangsa – Bangsa Kambing Perah
2. Pemilihan Bibit Kambing Perah Peranakan Etawah (PE)
1. Bangsa-Bangsa Kambing Perah
Kambing perah merupakan kambing yang secara genetik dapat menghasilkan susu dalam jumlah banyak sehingga melebihi kebutuhan susu cempenya dan dapat diperah untuk dikonsumsi manusia. Berikut ini beberapa bangsa kambing perah yang dikenal sebagai kambing penghasil susu yang produktif:
a. Alpine
Kambing alpine berasal dari pegunungan Alpen di Austria dan Prancis. Bobot betina dewasa mencapai sekitar 55 kg dan memiliki kemampuan yang baik dalam menyusui anak. Adapun ciri-ciri fisiknya adalah:
- ada yang bertanduk dan ada yang tidak bertanduk
- warna bulu bermacam-macam mulai dari putih sampai kehitam-hitaman
- warna muka ada garis putih di atas hidung
b. Saanen
Kambing saanen banyak diternakkan di daerah Switzerland Barat, Swiss. Kambing ini sudah tersebar luas di seluruh dunia karena dapat menghasilkan 800 kg susu per masa laktasi yang berlangsung selama 250 hari. Berat badan saat dewasa sekitar 65 kg. Ciri-ciri fisiknya adalah sebagai berikut:
- baik jantan maupun betina tidak bertanduk
- warna : putih atau cream pucat/muda
- hidung, telinga dan ambing berwarna belang hitam
- dahi lebar, telinga sedang dan tegak
c. Toggenberg
Kambing toggenberg atau bangsa togg merupakan kambing lokal dari daerah Switzerland Timur Laut, Swiss. Bobot kambing betina dewasa sekitar 45 kg. Kambing ini dapat menghasilkan susu sebanyak 6 liter per hari. Kambing ini mempunyai warna bulu cokelat dan putih di bagian mulut sampai daun telinga serta keempat kaki sampai di bawah pangkal ekor.
d. Etawah
Kambing ettawah merupakan kambing yang berasal dari India, tepatnya dari Jamnapari. Kambing etawah mempunyai berat badan rata-rata 55 – 80 kg dengann produksi susu yang sangat tinggi, yakni bisa mencapai 4 liter per hari. Ciri – ciri spesifiknya adalah
- memiliki wajah cembung dan rahang bawahnya menonjol
- daun telinga panjang dan lebar, terkulai ke bawah, serta rapat.
- kambing etawah baik jantan maupun betina mempunyai tanduk yang mengarah ke belakang dan ke samping.
- Ada gelambir di leher, dimana gelambir pada jantan umumnya lebih lebar dibandingkan gelambir pada betina
e. Peranakan Etawah (PE)
Selain kambing etawah dari India, kambing jenis lain yang paling banyak dipelihara di Indonesia dan diperah susunya adalah kambing Peranakan Etawah (PE). Kambing ini merupakan persilangan antara kambing etawah dan kambing kacang atau kambing lokal Indonesia. Ciri-ciri kambing PE merupakan perpaduan dari ciri-ciri kambing Etawah dan kambing kacang atau kambing lokal. Namun, ciri-ciri fisiknya cenderung mengikuti kambing Etawah dari India, seperti masih adanya gelambir, muka cembung, serta telinganya panjang, lebar dan terkulai. Produksi susu kambing PE yang dipelihara secara intensif berkisar antara 1,5 – 3,5 liter per hari.
- panjang telinga berkisar 18 – 30 cm
- bobot badan jantan dewasa ± 40 kg dan yang betina sekitar 35 kg
- warna bulu bervariasi dari putih, coklat muda sampai hitam
2. Pemilihan Bibit Kambing Perah
Secara teknis, penyeleksian bibit dapat dilakukan dengan cara :
a. Pengamatan kasat mata
Seleksi berdasarkan pengamatan kasat mata sudah membudaya dan selalu dipraktikkan oleh peternak rakyat. Hanya saja tingkat keberhasilan memilih bibit terbaik dengan teknik ini sangat tergantung pada kepiawaian pemilih.
b. Uji silsilah ternak berdasarkan kartu recording.
Seleksi bibit berdasarkan kartu recording sangat ideal karena tingkat akurasinya sangat tinggi. Hanya saja di Indonesia belum membudaya pelaksanaan tertib administrasi dan pendataan performa ternak menggunakan kartu recording. Hanya farm besar dan khusus saja yang sudah melaksanakan kegiatan recording tersebut.
Berikut ini ciri-ciri spesifik yang biasa digunakan dalam memilih bibit kambing perah PE :
a. Kambing PE Betina
Penilaian kambing yang berkualitas memang berbeda sesuai umur. Di sini hanya diberikan cara penyeleksian kambing PE betina dewasa. Sementara penyeleksian kambing PE dara atau cempe tentunya akan lebih rendah dari standar kambing PE betina dewasa.
1. Telinga panjang terjuntai minimal 28 cm dari lekukannya
2. Kontur telinga lemas
3. Panjang badan minimal 85 cm
4. Tinggi badan minimal 78 cm
5. Cekung hidung minimal 22 cm
6. Lingkar perut minimal 100 cm
7. Bobot hidup minimal 60 kg
8. Gelambir panjang dan lebar
9. Ekor melengkung ke atas
10. Bibir atas dan bibir bawah sejajar saat mulut menutup
11. Ambing susu sedang dan menyambung serta puting susu seperti botol yang keduanya tergantung lurus, sejajar dan simetris. Postur ambing dan puting seperti ini biasanya mampu berproduksi rata-rata 3 liter/hari (biasanya diperoleh pada induk yang sudah laktasi ketiga, yaitu induk yang lebih dari tiga kali melahirkan).
b. Kambing PE Jantan
Seperti halnya kambing PE betina, penyeleksian pejantan pun tidak sama untuk umur yang berbeda. Umur pejantan minimal 30 bulan. Untuk kambing PE jantan yang masih muda dapat dinilai dari cara berdiri yang tegak, kaki lurus tegak, bulu mulus mengilap, pandangan mata tajam, dan ekor melengkung ke atas. Sementara penyeleksian kambing PE jantan dewasa adalah sebagai berikut:
1. Telinga panjang terjuntai minimal 32 cm dari lekukannya
2. Kontur telinga lemas
3. Panjang badan minimal 100 cm
4. Tinggi badan minimal 90 cm
5. Cekung hidung minimal 25 cm
6. Lingkar perut minimal 100 cm
7. Bobot hidup minimal 80 kg
8. Gelambir panjang dan lebar
9. Ekor melengkung ke atas
10. Bibir atas dan bibir bawah sejajar saat mulut menutup
11. Dua buah zakar berukuran besar dan turun dengan panjang sejajar
12. Bulu badan mulus dan mengkilat
13. Berdiri tegak dan lurus
Seleksi bibit juga dapat dilakukan berdasarkan penaksiran umur. Penaksiran umur kambing yang sering dilakukan di Indonesia adalah dengan memperkirakan pergantian status gigi seri susu ke gigi seri tetap. Secara fisik penggantian status ke gigi seri tetap ini akan tampak lebih besar dan kokoh dibanding gigi seri susu yang tampak kecil.
No. Kondisi Gigi Seri Perkiraan Umur
1. Gigi seri susu Kurang dari 1 tahun
2. Dua gigi seri susu sudah berganti gigi tetap 1 – 2 tahun
3. Empat gigi seri susu sudah berganti gigi tetap 2 – 3 tahun
4. Enam gigi seri sudah berganti gigi tetap 3 – 4 tahun
5. Delapan gigi seri sudah berganti 4 – 5 tahun
6. Gigi seri tetap sudah mulai aus dan tanggal Lebih dari 5 tahun
KESIMPULAN
Kambing perah merupakan kambing yang secaragenetik dapat menghasilkan susu dalam jumlah banyak sehingga melebihi kebutuhan susu cempenya dan dapat diperah untuk dikonsumsi manusia. Berikut ini beberapa bangsa kambing perah yang dikenal sebagai kambing penghasil susu yang produktif:
a. Kambing Alpine
b. Kambing Saanen
c. Kambing Toggenberg
d. Kambing Etawah
e. Kambing Peranakan Etawah
Secara teknis, penyeleksian bibit dapat dilakukan dengan cara pengamatan kasat mata dan uji silsilah ternak berdasarkan kartu recording. Seleksi berdasarkan pengamatan kasat mata sudah membudaya dan selalu dipraktikkan oleh peternak rakyat. Hanya saja tingkat keberhasilan memilih bibit terbaik dengan teknik ini sangat tergantung pada kepiawaian pemilih.Seleksi bibit berdasarkan kartu recording sangat ideal karena tingkat akurasinya sangat tinggi. Hanya saja di Indonesia belum membudaya pelaksanaan tertib administrasi dan pendataan performa ternak menggunakan kartu recording. Hanya farm besar dan khusus saja yang sudah melaksanakan kegiatan recording tersebut. Seleksi bibit juga dapat dilakukan berdasarkan penaksiran umur. Penaksiran umur kambing yang sering dilakukan di Indonesia adalah dengan memperkirakan pergantian status gigi seri susu ke gigi seri tetap. Secara fisik penggantian status ke gigi seri tetap ini akan tampak lebih besar dan kokoh dibanding gigi seri susu yang tampak kecil.

1 comments:
Thanks Informasinya bro, dan bener2 sangat membantu sekali dan blognya keren.
Salam kenal dari saya
Post a Comment